Jumat, 03 Agustus 2018

PERJALANAN RESIDENSI LITERASI FINANSIAL : JENJANG MEMBACA DAN REPRODUKSI PENGETAHUAN



MENINJAU MEMBACA SEBAGAI KETERAMPILAN ABAD 21.

Kita sering mendengar jika abad 21 merupakan abad literasi. Pada perkembangan tersebut membaca (dan menulis) termasuk kedalam salah satu dari 6 literasi dasar. Posisi vital dari membaca menjadikan istilah tersebut sangat identik dengan literasi itu sendiri.

Membaca merupakan aktivitas untuk memahami isi teks tertulis, baik yang tersirat maupun yang tersurat, dan menggunakannya untuk mengembangkan pengetahuan dan potensi diri (Materi Pendukung Literasi Baca Tulis, Gerakan Literasi Nasional, Kemdikbud, 2017).

Pemahaman ini menjadi penting bagi kita sebagai pengelola taman bacaan dengan layanan pustaka sebagai layanan utamanya. Baik itu hanya berupa : layanan ruang baca, sirkulasi bahan pustaka, atau bahkan layanan kelompok pembaca.

Jika kita menyediakan layanan kelompok membaca, maka pengetahuan mengenai membaca akan sangat membantu tugas kita.

JENJANG MEMBACA.

Penjenjangan membaca diperlukan supaya pembaca dapat memilih bacaan yang tepat.

Pada umumnya kita sering melakukan penjenjangan berdasarkan usia/umur pembaca, padahal sebaiknya kita mengidentifikasi jenjang membaca seseorang berdasarkan kriteria “kedewasaan” seseorang dalam membaca.

Terdapat 7 jenjang membaca, yaitu : pra membaca, membaca dini, membaca awal, membaca lancar, membaca lanjut, membaca mahir, dan membaca kritis.

Catatan untuk pra membaca : aktivitas difokuskan pada membangkitkan minat baca, memberikan model membaca yang fasih, dan memperkenalkan tulisan yang baik sebelum dapat membaca mandiri.

Jenjang tersebut memiliki kriteria berdasarkan isi, bahasa dan grafika.

Dengan penjenjangan ini, kita dapat menyelaraskan bahan bacaan dengan kecakapan pembaca. Hal itu menjadi penting, karena nantinya membaca akan memberikan pengalaman yang menyenangkan.

MENGIDENTIFIKASI JENJANG MEMBACA DAN MEREPRODUKSI PENGETAHUAN.

2 cara pokok dalam mengidentifikasi jenjang membaca, yaitu : respons lisan dengan menceritakan kembali dan respons tertulis.

Respons tertulis, secara umum membahas : alur (awal-tengah-akhir) dan narasi cerita, menjelaskan latar, membuat karakter yang kuat, membuat akhir yang berkesan, bermain dengan sudut pandang.

Respons terhadap bacaan oleh pembaca merupakan langkah awal menuju ke menulis. Sehingga literasi baca-tulis merupakan satu kesatuan proses. Respons ini sebagai reproduksi pengetahuan secara sederhana, berdasarkan pengalaman membaca.


PEMBELAJAR SEPANJANG HAYAT, REPRODUKSI PENGETAHUAN DAN KECERDASAN MAJEMUK.

Kecerdasan majemuk, terdiri dari : linguistik, musikal, logis matematis, visual spasial, kinestetis, intrapersonal, interpersonal, dan naturalis. Teori yang dikemukakan oleh Howard Grdner (1995) ini adalah teori kecerdasan yang sangat dekat dengan isu literasi.

Secara awam, pastinya aktivitas membaca ini akan langsung kita hubungkan hanya dengan kecerdasan linguistik. Kemampuan menghubungkan pengetahuan baru dengan berbagai pengalaman sebelumnya.

Padahal membaca juga dapat mengaktifkan jenis kecerdasan lainnya. Salah satunya adalah kecerdasan visual spasial. Dengan membaca kita akan ditantang untuk dapat menghubungkan konsep, ide, dan pola-pola unik lainnya.

Seperti telah dikemukakan sebelumnya, jika membaca mendorong kita untuk memberikan respons berupa reproduksi pengetahuan. Dengan mereproduksi pengetahuan, kita sedang membentuk diri sebagai pembelajar sepanjang hayat.

BUKU JENDELA DUNIA.

Melalui penjenjangan membaca dan reproduksi pengetahuan, kita menjadikan buku sebagai jendela dunia. Ini senada dengan Konsep living books menurut Charlotte Mason (Dewayani, 2017), yaitu :

Buku yang menginspirasi dan mengajarkan tentang kehidupan melalui keindahan kata-kata, cerita dan gambar.

Buku yang dapat membawa anak masuk ke dalam cerita, mampu membawa anak berada pada waktu dan kejadian berbeda pada saat pelajaran sejarah, mampu membawa anak berada pada daerah dan iklim yang berbeda ketika belajar geografi.

Buku yang mampu membangkitkan aspek keindahan, kreativitas, imajinasi dan memperkaya pengetahuan anak.

Buku yang secara sadar dan dibaca pada waktu luang.

Buku yang membimbing kita untuk berpikir.

Buku menjadikan kita pembelajar sepanjang hayat.

MANFAAT MEMBACA KRITIS.

Pada akhirnya, pada jenjang membaca kritis dapat memberikan keterampilan yang kita butuhkan dalam menjalani era Industri 4.0 (Dewayani, 2017), yaitu :

Menjadi pengguna yang bijak (mengakses konten yang aman dan bermanfaat).

Menjadi pengguna kreatif (berbasis pada karya dan memiliki kepedulian sosial).

Menjadi pengguna kritis (selalu memastikan sumber yang kredibel).

Menjadi pengguna produktif (tidak hanya sebagai pengakses informasi tetapi juga penghasil informasi).



Aris Munandar - Pegiat di Matahari Pagi.

1 komentar:

"bersinar bersama dan menyinari kebersamaan"